Saturday, September 10, 2005
SUDAH SIAPKAH KITA BILA SAKARATUL MAUT TIBA?
Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur? Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir di siang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!

Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. SUngguh, kami tak memiliki Wati yang lain.
Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami! "Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun-," kata ibunya sambil mengusap airmatanya.


Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semu tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan sura nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."
Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri.
Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan sholat Dhuha. Selesai sholat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.


Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah iamengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar.


Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.

Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu??
(Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Elvy Tiana Rosa, disadur dari buku Lentera Kehidupuan: Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa)

##############

*Nn.
posted by Chaerani @ 7:00 AM  

2 Comments:
  • At 6:52 PM, Anonymous someone said…

    SubhanaAllah, Maha Suci Allah yang telah memudahkan hambanya yg soleha mengahiri hidupnya dgn begitu mudah dan tenang.. daku ya Allah hambaMU yg banyak dosa.. dapatkah Allah mengampuni ku....dan dapatkah aku mengahiri hidupku dengan caranya Wati menghebuskan nafas yg terahir..hiks hiks hiks.......

     
  • At 7:58 PM, Blogger Chaerani said…

    Semoga kita semua nanti akan mengalami sebagaimana yang dialami Wati....amiiin...tinggal kita memperbaiki diri dengan jalan meningkatkan iman dan taqwa kita kepadaNYA.

     
Post a Comment
<< Home
 
 
about me

Greeny Chaerani
Name::Chaerani
From::jakarta, Indonesia
View my complete profile
loving n caring

Udah Lewat
Archives
Best Quotes
Shoutbox

Name :
Web URL :
Message :

.

Greeny Voices


Buttons 'n Banners

Get My Button
Greeny Chaerani
Code is Here

Subscribe Me
My 360 blog Greeny Chaerani
Blog Directory & Search engine Blogwise - blog directory

Cool Portal
Mau bikin E-Gold?Alat Transaksi online yg Aman
Blingo
  

Links
F.r.i.e.n.d.S

Affiliates



Who links to me?

IKLAN


Peduli Jogja & Jateng

Jogja Update


$1 For Palestine

DUKUNG RUU APP

© 2004 nununchaerani.blogspot.com

 

 

About Kampanye Damai Indonesia 2009 Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 Pemilu Damai 2009